22
TAHUN KAMMI, REFLEKSI SEPENUHNYA INDONESIA
Oleh Muhammad Rais (Departemen
Hubungan Masyarakat KAMMI Soshum UNNES 2020)
Tidak asing bagi kita mendengar
adagium arab yang mengatakan “pemudah hari ini, pemimpin masa depan (Syubhanul
yaom, rijalul ghad)”, maka tidak heran bila kita menelisik sejarah pergerakan
Indonesia di awal abad ke-20, istilah “Pemoeda” menjadi simbol progresif yang
menunjukkan peranan besar golongan muda dalam menggagas sebuah entitas politik
bernama Indonesia.
Kita bisa melihat tulisan Prof
Dr. Subroto (2015) dalam bukunya yang berjudul : Indonesia di Tanganmu,
mengajak kita para pemuda untuk merefleksikan bahwa Indonesia adalah negaranya anak muda, ada Suwardi Suryaningrat (Ki
Hajar Dewantara) kaum pergerakan yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia”
dengan mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau. Kala
itu beliau berumur 24 tahun ketika diasingkan ke Belanda karna tulisan
kritisnya terhadap pemerintah kolonial yang tengah merayakan 100 tahun
kemerdekaanya atas Prancis. Adapula dr. Cipto Mangunkusumo ketika masih berusia
19 tahun bersama dua rekannya mendirikan organisasi yang kelak menjadi awal
kebangkitan nasional, Budi Utomo. Dalam catatan sejarah, sebelum ia terjun ke
dunia politik pahlawan nasional yang berprofesi sebagai dokter ini pernah
mendapat penghargaan dari Ratu Wilhelmina atas jasa dan keberanianya dalam
membasmi wabah Pes mematikan yang merebak di Malang pada kisaran tahun 1911
berselang hampir seabad sebelum Virus Corona (Covid-19) menjadi pandemi di
seluruh dunia termasuk Indonesia saat ini.
Ada banyak nama pemuda dan
kiprahnya dalam sejarah mula pendirian bangsa ini, mereka adalah orang-orang
yang memiliki kesadaran berorganisasi dan melembagakan perjuangan mereka untuk
membangun tujuan dan kesadaran bersama yang diakomodasi ke dalam berbagai
organisasi atau harokah. Meskipun didirikan dengan beragam latar belakang dan
kondisi tetapi kematangan berpolitik dan berbudaya melahirkan kemampuan dan
kemauan mengolaborasikan gerakan yang beragam itu menjadi persatuan misalnya
tercermin dalam kongres Pemuda I tahun 1926 di Batavia yang kelak melahirkan
konsep Sumpah Pemuda.
Bila kita merenungi kisah
perjuangan para pendahulu kita, kita akan menyadari bahwa mereka telah mewarisi nilai-nilai yang telah
mengakar kuat pada masyarakat kita sebagai modal dasar untuk menjadi bangsa
yang besar yakni nilai kebersamaan untuk kebaikan bersama.
Menjalani 74 tahun sebagai bangsa
yang telah merdeka ini. Maka sebagai pemuda saat ini tentu peran kita adalah
mengawal cita-cita dari kemerdekaan yang telah dihadirkan oleh mereka para pendahulu kita. Tugasnya
adalah memastikan apakah di 100 tahun kemerdekaan dan seterusnya, kita akan
menjadi bangsa yang jaya atau sengsara. Maka di periode inilah menjadi
tahun-tahun yang akan menentukannya, the point of no return.
Kilas Balik Sejarah
berdirinya KAMMI
Sejalan dengan cita-cita mengawal
kemerdekaan tersebut, tepat 22 tahun yang lalu pada 29 Maret 1998. Para pemuda
yang menisbatkan dirinya dalam agama Al-Islam dan dengan semangat
nasionalismenya mendeklarasikan lahirnya sebuah front aksi yang kemudian
disepakati bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) selanjutnya
deklarasi tersebut dinamakan Deklarasi Malang. Esensi hadirnya gerakan ini
adalah sebagai respon yang didasari oleh keprihatinan mendalam terhadap krisis
nasional yang melanda negara otoritarianisme itu yang sedang bertransisi menuju
era reformasi.
Saya kira perlu untuk mengulas
sejarah berdirinya gerakan yang muncul dari gelora masjid kampus ini, dimana 22
tahun menandakan bahwa organisasi ini telah jauh melangkah, namun juga pertanda
semakin menjauhnya ia dari ibu
kandungnya, LDK. Sebagai aktivis yang dibesarkan di Lembaga Dakwah Kampus (LDK)
persepsi saya sebelumnya tentang khittah LDK yang kentara berbeda dengan
gerakan ini hingga sentimen rekan-rekan tentang hegemoni KAMMI terhadap masjid
kampus. Menimbulkan antipati yang dilatari oleh
ketidaktahuan adanya pertautan antara LDK dan KAMMI.
KAMMI lahir dari momentum Forum
Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) ke-10 di Universitas Muhammadiyah
Malang (UMM) yang dihadiri oleh 63 kampus (PTN-PTS) di seluruh Indonesia. LDK
saat itu memandang dirinya sebagai kekuatan moral-intelektual mahasiswa muslim
merasa perlu merespon serta menunjukkan sikap politiknya secara jelas agar
eksistensinya dapat diterima oleh masyarakat, tetapi tidak semua forum sepakat akan hal itu karna kekhawatiran
bila LDK akan terseret dalam pusaran politik praktis. Maka sebagai jalan
tengah, pembentukan front aksi ini dibahas di luar forum FSLDK. Hasilnya adalah
disepakati bahwa wadah operasional ini dinamakan KAMMI dan mendudukan Fahri
Hamzah, delegasi dari UI saat itu sebagai ketua umum pertamanya.
22 Tahun Eksistensi
KAMMI
Perkembangan jaringan struktural
KAMMI saat ini telah tersebar di 30 provinsi untuk kepengurusan wilayah di
Indonesia, selain itu kader yang sedang berkuliah di luar negeri juga telah
membentuk jaringan wilayah sendiri seperti jaringan wilayah Eropa, Jepang,
Amerika dan Timur Tengah. Pada periode 2017-2018 lalu tercatat ekpansi jaringan
KAMMI tersebar di hampir 14 negara. Para Diaspora KAMMI tersebut adalah mereka
para mahasiswa pascasarjana yang mendapatkan beasiswa dan melanjutkan studi
magister (S2) atau doktoral (S3) di negaranegara tersebut. Hal ini memang
diamanatkan pada Muktamar ke-X KAMMI pada tahun 2017 mengenai tiga poin terkait
Diaspora KAMMI, yaitu: 1) Pengembangan 10 cabang KAMMI Luar Negeri; 2)
Mendorong 136 kader KAMMI melanjutkan studi S2 dan S3 di seluruh dunia; dan 3) Menempatkan
SDM strategis KAMMI untuk mengisi ruang-ruang profesional dalam Masyarakat
Ekonomi ASEAN.
Dalam paradigma gerakannya memang
tercantum Gerakan Intelektual Profetik disertai tagline Muslim Negarawan yang
menunjukkan preferensinya pada kematangan kualitas SDM sebagai organisasi
mahasiswa islam yang progresif. Meskipun kiprahnya di Indonesia terbilang masih
sangat muda dibandingkan organisasi pergerakan lainnya, pendidikan kader KAMMI
memiliki sistem kaderisasi yang unggul. Tetapi sistem kaderisasi tersebut
seharusnya juga mampu mempertegas penempatan kader pada post-post yang sesuai
dengan potensi kadernya, tidak memukul rata kader pada satu bidang saja.
Meminjam pernyataan Amin Sudarsono (2019) dalam bukunya yang berjudul “Blank
Spot”, bahwa hari ini Indonesia sudah cukup banyak memiliki Agamawan, rakyatpun
sudah semakin mengenal agama, Jumlah politisi juga membludak, sehingga perlu
juga untuk diekspor ke negara lain. Kaum ilmuanlah yang hari ini seharusnya
makin banyak dicetak di Indonesia dan dihargai. Karna merekalah ujung tombak
dalam mengembangkan sains. Paradigma intelektual profetik yang ditekankan oleh KAMMI
adalah upaya menghapus dikotomi antara agama dan sains, sehingga gerakan
mahasiswa tidak semata-mata untuk menyediakan alat pukul politik tetapi juga
menyiapkan kader intelektual bermoral yang melek politik, disamping kritis
terhadap kebijakan pemerintah, juga solutif terhadap persoalan yang ada.
Misalnya di tengah pandemi Covid-19 yang saat ini dialamai oleh masyarakat
dunia, KAMMI harus secara proaktif berkomitmen mengoptimalkan kontribusinya,
baik dalam pemikiran maupun kerja nyata sebagai keharusan peran dari
eksistensinya dan manfaat untuk negeri. Sejauh ini untuk persoalan yang
terakhir tadi disebutkan, pengurus pusat KAMMI telah mengintruksikan
pembentukan SATGAS KAMMI COVID-19 untuk membentuk crisis center di tiap pengurus daerah serta
menyediakan Narasumber Tenaga Kesehatan kepada publik untuk kebutuhan pemateri
diskusi sebagai upaya edukasi kepada masyarakat.
Terakhir, dalam tulisan ini yang
tadi diawali dengan pesan-pesan tentang nilai persatuan dan kebersamaan, saya
kira makna “Sepenuhnya Indonesia” pada tagline KAMMI dapat diartikan sebagai
kematangan pergerakan yang terbuka akan keberagaman Indonesia. Sebab KAMMI
bukanlah organisasi eksklusif meski menyematkan kata Muslim sebagai identitas
dalam pergerakanannya, karena agama mengajarkan konsep Islam Rahmatan lil
Alamin bukan Rahmatan lil Muslimin.
Dalam suasana ulang tahun ini,
saya atas nama pribadi dan komisariat mengucapkan selamat milad ke-22 kepada
seluruh keluarga besar Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).
Tantangan ke depan akan semakin besar, semoga KAMMI terus mampu menjaga
relevansi gerakannya ditengah kondisi masyarakat yang dinamis.
Jayakan Indonesia 2045 !
#KammiSoshumUnnes
| #KabinetSemud | #SemangatMuda
